Brownies Esteban in Memoriam (25 Dec 1998 – 26 Jan 2009)

dsc00080-1024x768

 

Postingan kali ini saya persembahkan kepada hewan peliharaan saya yang bernama Brownies Esteban yang baru saja meninggal tgl 26 Januari kemarin. Brownies merupakan anjing yang berusia paling tua di antara kelima anjing yang saya pelihara.  Foto yang saya pasang adalah foto terakhir yang saya ambil ketika ia sakit. Dengan senang hati saya merelakannya tidur di tempat tidur saya. Di foto ini ia sudah terlihat lemah karena sakit lambung yang di deritanya selama beberapa hari sebelum ia meninggal.

Brownies meninggal ketika saya tidak sedang berada dirumah, hari itu Brownies memang terlihat lebih lemah dari sebelumnya. Karena malam sebelumnya saya sempat mendengar ia berteriak kesakitan dan kembali memuntahkan makanannya. Dan di pagi hari pun saya sempat menggendong Brownies untuk dibawa ke tempat ia bisa berbaring. Dan lagi-lagi saya mendengar tangisan ketika ia bangkit untuk berjalan. Saya benar-benar tidak tega melihatnya begitu, maka sebisa mungkin sepanjang pagi saya terus menemaninya berbaring di kamar orang tua saya. Kakak saya sempat memakaikan kain untuk menghangatkan perutnya yang kosong dan dingin karena berbaring di lantai.
Kami memang sempat membawanya ke dokter untuk diperiksakan karena sudah 3 hari lamanya Brownies menolak untuk makan, daan setiap kali ia makan pasti dimuntahkan. Di dalam mobil dalam perjalanan ke dokter, Brownies masih terlihat bersemangat memandang keluar mobil dari jendela seperti yang biasa ia lakukan jika naik mobil. Saya senang sekali melihatnya demikian ketika melihat ia senang walaupun dia sakit.
Namun apa boleh dikata, ketika akhirnya tanggal 26 Januari kemarin yang bertepatan dengan tahun baru imlek Brownies menyerah pada penyakitnya dan meninggal di waktu yang saya tidak ketahui. Sewaktu hendak berangkat pergi meninggalkan rumah, papa saya sempat berkata bahwa mungkin hari itu adalah hari terakhir Brwonies. Saya sendiri hanya mengatakan ‘Ya ga apa-apa…setidaknya saya tidak perlu melihat saat-saat ia meninggal’ saya memang merasa tak akan mampu melihatnya. Dan benar saja, ketika pulang kerumah setelah kakak saya mengabarkan Brownies sudah meninggal saya memutuskan untuk tidak ikut mengubur jenasahnya. Saya ga akan mampu menahan tangis melihat ia dikuburkan. Hanya melihat sekilas jenasahnya dan sempat mengelusnya untuk yang terakhir kali sudah membuat leher saya sakit menahan tangis.
Sebuah hal yang mengesankan saya ketika mendengar berita kematian Brwonies dari kakak saya adalah ketika kakak saya menceritakan saat-saat kematian Brownies, anjing saya yang lain bernama Conan (yang adalah anjing kesayangan saya) yang ‘memberitahukan’ kakak saya bahwa Brownies sudah meninggal. Ia mengatakannya dengan cara mendatangi kakak saya yang saat itu berada di lantai dua rumah saya sedangkan Brownies ada di lantai satu ketika meninggal. Ikatan Brownies dengan Conan memang lebih erat, karena keduanya sempat beberapa tahun berteman akrab sebelum seekor anjing bernama Peggy bergabung dengan mereka dan melahirkan 4 anak dengan Brownies. Semenjak kehadiran anak-anaknya, Brownies memang agak tersingkir dari keberadaannya sebagai anjing kesayangan. Namun kami masih menyayanginya karena ia adalah anjing pertama yang kami pelihara. Ikatan Brownies dengan Conan memang cukup kuat, karena Conan bisa dibilang adalah pembela Brownies saat ada anjing lain menyerang. Hal ini memang terjadi ketika rumah saya masih di daerah Kampung Ambon Jakarta Timur. Brownies sempat pulang kerumah dengan keadaan terluka di bagian belakangnya. Dan kami mengetahui saat itu ia memang berkelahi dengan anjing lain dan Conan tidak bersamanya saat itu. Dan keesokan harinya saat kakak saya membawa Brownies dan Conan berjalan-jalan mengelilingi komplek mereka bertemu anjing yang menyerang Brownies. Saat itu juga Conan berkelahi dengan anjing yang berwarna putih itu lalu memojokkannya di selokan dan balas menggigit bagian belakang anjing itu, persis seperti yang dilakukan anjing putih itu kepada Brownies sebelumnya. Begitulah yang diceritakan kakak saya. Saya sangat terkesan dengan kedekatan kedua anjing ini. Hingga saat inipun saya merasa kalau Conan masih mencari keberadaan Brownies yang menghilang. Dan itu membuat saya sedih melihatnya.
Walaupun begitu ada sebuah hal yang sempat saya sesali ketika sebelum Brownies meninggal, yaitu ketika suatu siang 2 hari sebelum Bronies meninggal saya sempat memarahi dia karena suara tangisannya yang membangunkan tidur siang saya.  Kini saya sangat menyesalinya karena saya belum sempat meminta maaf pada Brownies mengenai kesalahan saya itu. Saat ini saya hanya bisa menangisi kepergiannya yang memang masih belum bisa saya lupakan. Saya berharap Brownies sudah bahagia di alam sana. Setidaknya ia tidak merasakan sakit lagi. Brownies Esteban, Anjing setia yang tak pernah mengeluh maupun melawan pada tuannya. Masih menunjukkan sikap setianya dengan merawat semua tuannya yang sedang sakit. Brownies si suster, begitulah julukan kami padanya karena sifatnya yang mau menunggui tuannya yang sedang sakit. Yang bisa saya ingat saat ini adalah bekas luka gigitannya yang masih dan akan terus membekas di pergelangan tangan kiri saya. Ini akan menjadi tanda pengingat saya padamu, Brownies.  Dan saya tidak akan pernah membencimu karena sudah melakukannya. Kamu tetap akan menjadi anjing pertama yang saya miliki. Love you, Brownies.
Regards,
FubuFebi


2 thoughts on “Brownies Esteban in Memoriam (25 Dec 1998 – 26 Jan 2009)

  1. dianne Reply

    waahhh terharuu nyyyee !! sabar yoo k , hhoo 🙂
    sim'tina mpe nangis bacanyaa ksiaann,

  2. Fubu Reply

    wakakakakak….masa seeeeeeeeeehhhh???? iya yah? sedih ah bacanya….postingan ini yg gw suka n skaligus paling males gw baca lagi….hahahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *