Eat and Taste



“He taught me to eat good food and to savor life.”

-Julia Child- 
 

Banyak hal yang berubah pada diri saya semenjak saya mengikuti sekolah memasak. Salah satunya adalah perubahan pada cara pandang saya dalam menikmati makanan. Well, akan saya ceritakan disini bagaimana perubahan tersebut.

Saya termasuk orang yang mengamati perubahan di sekitar saya, baik itu dalam hal fashion ataupun trend. Sewaktu bekerja sebagai desainer grafis di sebuah majalah di jakarta, saya dengan mudah mengikuti perubahan mode yang ada karena majalah tempat saya bekerja saat itu adalah majalah remaja yang juga mengusung tren fashion terkini (pada masanya). Kemudian setelah menjadi pre school teacher saya masih mengikuti fashion terbaru namun tidak terlalu update lagi. Hanya berupa padu padan baju saja. Tak hanya soal fashion, karena kecintaan saya membaca, saya suka membaca majalah-majalah lokal maupun impor. Salah satu yang saya sering perhatikan adalah mulai bermunculannya tempat makan-tempat makan di jakarta yang masuk ke dalam majalah. Beberapa diantaranya masuk majalah tersebut karena makanannya atau karena tempatnya yang memanjakan penikmat makanan. Kala itu kadang saya mengajak pasangan saya mengunjungi restoran tersebut, di waktu lain saya mengajak sahabat-sahabat saya berkumpul di restoran tersebut.

Restoran pilihan saya waktu itu kebanyakan adalah restoran yang memiliki tema Fine Dining. Kala itu saya berpikir bahwa restoran Fine Dining adalah restoran mahal, eksklusif dan tidak banyak orang yang bisa kesana. Pikiran saya waktu itu adalah dengan makan di restoran tesebut saya sudah menjadi bagian dari masyarakat sosialita (yang kerjaannya ngabisin duit tanpa hasil tapi tetep eksis, really i feel embarrased remember that time). Kebiasaan untuk tetap eksis masih kencang pada saat itu, setiap saya mengunjungi restoran Fine Dining di jakarta saya pasti akan Checked in atau mem-posting foto makanan saya di tempat tersebut di media sosial supaya teman-teman saya yang lain bisa melihat ke-eksistensi-an saya saat itu. Ya, saat itu saya ke restoran Fine Dining semata-mata untuk EKSIS (yes, you can say i was alay that time). Saya memakan makanan yang saya tidak mengerti rasanya, bentuknya dan prosesnya. Pokoknya makanan yang saya pesan itu cukup akrab di telinga saya (seperti steak, ikan goreng dan saus aneh-aneh). Kalaupun saya tahu makanan yang saya pesan cukup enak dimakan adalah dari pasangan saya yang pernah bekerja di dapur sewaktu ia kuliah di aussie dulu. I trust him about food!

Keputusan saya mengikuti sekolah masak adalah karena keinginan saya untuk bisa memasak. Mama saya tidak pernah memaksa saya untuk memasak, namun mama dari pasangan sayalah yang secara tak langsung ‘menyeret’ saya masuk ke dapur untuk memasak. Ketika saya berkunjung ke rumah pasangan saya, saya pasti diminta ikut memasak walau hanya sekedar membantu menyiapkan bahan masak atau mengaduk masakan. Rasa malu dalam diri saya yang membuat tekad saya semakin kuat untuk bisa memasak. Dan setelah diijinkan ikut sekolah masak oleh orang tua saya, saya mulai sekolah masak dengan modal ilmu masak seadanya dan juga ketakutan akan minyak panas yang masih terus membuat gentar.

Tiga bulan sekolah memasak saya mulai mengetahui dasar-dasar dan teknik memasak. Dalam enam bulan saya sudah mulai percaya diri membeli alat dan bahan-bahan masakan. Dan setelah setahun saya menyelesaikan sekolah masak, saya sudah memberanikan diri untuk membuat kue untuk saya jual. Perubahan yang cukup drastis dalam satu tahun pembelajaran. Namun bukan hanya teknik memasak dan pengolahan makanan yang sudah saya cukup kuasai, lidah saya juga mulai terbiasa dengan berbagai rasa makanan yang saya buat di sekolah masak. Masakan-masakan yang dulu saya tidak pernah suka seperti spaghetti dan lasagna kini adalah masakan favorit saya yang sering saya buat dirumah, bahkan mama saya juga ikut menyukai aglio olio buatan saya.

Sibuk mengikuti sekolah masak selama setahun membuat kesukaan saya mengunjungi restoran-restoran Fine Dining mulai memudar. Saya kini lebih memilih untuk memasak dirumah dengan resep-resep ala resto Fine Dining. Saya mulai merasa sayang menghabiskan uang saya untuk sebuah menu yang harganya selangit tapi porsi sedikit. Kalimat yang sering keluar dari mulut saya adalah “Ah, mending juga bikin sendiri!” Walaupun kadang suka malas kalau sudah sampai dirumah. Hehehe…

Perubahan yang juga terjadi adalah perubahan tujuan saya untuk makan di resto Fine Dining. Jika dulu saya makan di Fine Dining untuk sebuah eksistensi, kini tujuan tersebut berubah menjadi: “I eat to Taste” ya, saya makan untuk mencicipi. Saya memesan makanan yang menurut saya menarik untuk mengetahui bagaimana rasa makanan tersebut dan bagaimana standar rasa di restoran tersebut. Ya, saya rasa semua orang tahu bahwa restoran Fine Dining adalah restoran dengan standar yang tinggi, baik untuk rasa maupun kualitas, kira-kira itulah yang saya mulai mengerti. Kini kunjungan saya ke restoran Fine Dining bersama pasangan saya menjadi momen yang unik bagi kami. Biasanya setelah memesan makanan kami akan mengamati suasana resto tersebut lalu menilai menurut pandangan kami masing-masing. Kami akan mengomentari mulai dari kursi, pajangan, alat makan hingga servisnya. Kemudian kami akan mengestimasi biaya pembuatan dari restoran tersebut, hahaha…aneh memang, tapi begitulah kebiasaan kami.

Setelah kami mencoba makanan yang dipesan barulah kami akan melemparkan komentar mengenai masakan tersebut. Jangan salah, walau bertitel Fine Dining namun ada saja yang rasanya kurang menurut saya. Saya pernah memakan spaghetti tanpa rasa di sebuah restoran bertema itali di bilangan kelapa gading atau memakan ikan Dori ‘palsu’ yang dihidangkan. Pasangan saya selalu mengatakan bahwa setelah saya bisa memasak, saya menjadi semakin cerewet soal makanan, entah kurang ini atau kurang itu. Hahahaha…itu kan karena kini saya sudah tahu bagaimana proses memasak dan rasa makanan yang baik. Tentu saya juga punya standar sendiri untuk menilai makanan saya.

Selain perubahan dari tujuan saya makan di Fine Dining, perubahan lain adalah saya kini mulai merasa malu memposting makanan saya di sosmed. Boleh dibilang kadar kenorak-an saya mulai berkurang. Ketika yang lain masih dengan asik akan memfoto makanan mereka, kini saya malah malu melakukannya. (tapi when it comes to foods i made, saya tidak akan sungkan untuk mempostingnya ke sosmed. Hehehehe….) Kini yang saya lebih suka foto adalah pernak-pernik lucu ataupun perlengkapan makanan yang ada di meja saya. Mungkin ini juga karena pengaruh saya pernah bekerja sebagai desainer grafis yang ingin membuat foto dengan arti yang bagus dalam hal ini adalah foto dengan sedikit sentuhan art menurut saya. Kemudian saya akan sedikit mengedit foto tersebut dengan tambahan beberapa kutipan yang berkaitan barulah saya posting di sosmed. Keinginan untuk checked in tempat terkadang suka muncul, namun hanya muncul tenggelam.

Jika dulu saya mempercayai pilihan pasangan saya terhadap makanan, kini saya bisa dengan percaya diri memilih makanan saya. Ya, walaupun bukan Michelin Star Chef tapi saya mulai memandang makanan sebagai sesuatu yang patut dinikmati. Layaknya hidup, nikmati prosesnya hingga menjadi makanan yang indah dilihat dan enak dimakan. Ya, sekali lagi saya katakan: I eat to taste…cheers!

Regards,
FubuFebi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *