Pastry or Savory

 

Baking or Cooking? Pertanyaan itu sampai sekarang belum bisa saya jawab. Kenapa? Karena saya bingung mau pilih yang mana. Buat saya pertanyaan itu sama maknanya kaya ditanya begini: “Pilih mama atau papa?” atau “Lebih sayang mama atau papa?” Ga bisa juga saya jawab karena rasa sayang saya kepada kedua orang tua saya sama besarnya. Which one is better? Both, because they are the best parent for me and they are important to me.

Begitu juga dengan memasak dan bikin kue. Dua hal itu sekarang sudah menjadi bagian kehidupan saya. Kalau pertanyaan itu dikasih ke saya 2 tahun lalu, saya akan dengan yakin jawab, saya lebih suka memasak. I remember when i took my cooking class, saya suka praktek memasak dibanding bikin kue. Karena saya masih merasa baking atau bikin kue itu ribet dan bahannya banyak. Belum lagi baking itu perlu ketelitian dengan perhitungan angka-angka di resepnya. And i hate numbers, thats the reason i didn’t get into science major in my high school. Jadi jelaslah alasan saya lebih memilih cooking dibanding baking.

Dan sekarang pertanyaan itu kembali ditanyain sama salah satu temen saya. Well, the answer is i don’t know. Saya bener-bener ga bisa memutuskan which one is better since i love both of them. Oke, saya akan coba menjabarkan kenapa saya bingung.
Cooking atau memasak. Seperti alasan diatas, saya suka masak karena buat saya memasak itu sama seperti menciptakan sesuatu dari yang ga ada jadi ada. Menggabungkan beberapa bahan dasar dari mahluk hidup di sekitar kita (hewan atau tumbuhan) menjadi sesuatu yang bisa kita santap dan bikin perut kenyang. Dan memasak itu pun adalah sebuah seni. Seni mencampur-campur kali yah. Tapi ya campurnya juga pilih-pilih supaya rasanya ga amburadul, hahaha…

Dari postingan saya yang berjudul Indonesian Foods, memang jelas kalau saya lebih suka mengolah masakan barat atau western foods. Dengan pertimbangan masakan barat lebih simpel bahan-bahannya (please, bukan maksud saya untuk sok kebarat-barat-an). Suka masak makanan western bukan berarti saya ga suka masak makanan indonesia. Trust me, masakan indonesia itu ngangenin banget rasanya. There’s nothing will separate me from Indonesia Cuisines. Nothing! Tapi masak makanan indonesia, mungkin ga sesering saya bkin makanan western lah yaah. Hehehehe… *peace yoooo*
Baking, atau sebutan lainnya bikin kue. Kegiatan ini baru saya nikmati setelah saya selesai sekolah masak. Dari baking saya belajar mengatasi rasa takut saya. Well, ga cuma baking sih, karena mau sekolah masak pun saya juga belajar mengatasi rasa takut saya akan minyak panas. Cuma memang di kegiatan baking-lah saya pelan-pelan berani mengatakan “ya” untuk mencoba sesuatu yang saya hindari. Seperti soal ketidaksukaan saya menghias kue, baru pas ulang tahun keponakan saya desember kemarin saya memutuskan untuk mencoba membuat kue ulang tahun yang butuh hias menghias. Saya pikir, momen ulang tahun keponakan saya bisa jadi momen saya belajar menghias kue. Dan memang betul, walaupun saya masih menghindari menghias kue dengan fondant tapi at least saya mau coba hias kue dengan buttercream. The main reason is because buttercream is more controlable than fondant to me. 
Rainbow Schuimpjè (French Meringue)
Well, ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa membuat kue dan menghias-nya sendiri. Apalagi saya masih bisa memilih sendiri tema dan alat hiasnya. Istilahnya masih bebas berkreasi sendirilah. Dan saya pun menikmati waktu baking saya di dapur. Saya bersyukur bisa punya alat-alat baking yang memadai. Dan buat saya membeli alat-alat baking dan cooking itu sama seperti investasi. Oven gas besar saya, sudah menemani saya hampir 2 tahun, Standing mixer Kitchen Aid saya pun juga sudah hampir 3 tahun membantu saya. Dan 2 barang itulah yang berjasa besar menciptakan kue, roti, steak, dan makanan-makanan lain yang mostly saya buat untuk keluarga dan boyf saya.
Kalau dulu menurut saya baking itu ribet karena banyak angka, sekarang sudah tidak saya permasalahkan karena memang dalam baking diperlukan keakuratan dalam perhitungan resep untuk menghasilkan kue yang enak. Dan baking pun tidak bisa sembarang campur-campur, itulah sebabnya dalam resep selalu ada perhitungannya. Salah sedikit akan berpengaruh besar pada hasil akhir. Kalau dalam memasak, kebanyakan garam (keasinan), bisa diakali dengan menambahkan air. Tapi kalau baking, kebanyakan baking powder bakalan susah ngakalinnya.
Deviled Eggs
Tapi lagi-lagi, dalam cooking and baking you can always use your own feeling. Dan basic dari cooking and baking adalah your own taste bud and experience. Tips yang bisa saya kasih sebagai sesama tukang masak adalah: selalu rasakan setiap makanan yang anda buat. Sesebal apapun saya dengan keju, tapi saya harus cobain adonan kue kastengel buatan saya. Dan memang betul kata orang “Practice Makes Perfect”. Selalu latih kemampuan kita, seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa. ‘Bisa karena biasa’, ‘Jangan takut mencoba’ dan ‘Always be curious’. Mungkin itulah kutipan-kutipan yang saya temukan dan rasakan waktu saya mencoba memasak dan bkin kue.
So, if you ask me one more time which one i’d prefer, Cooking or Baking? Become a Pastry Chef or Savory Chef? Well, i can’t choose. I love doing both and i plan to do it for the rest of my life. So, let’s keep cooking and baking. C’est la vie!
Regards,
FubuFebi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *