Six Ounces Coffee (Restaurant Review)

 

It’s been a while since i write a food review. Mungkin saya sudah terlalu lapar sampai lupa mengabadikan makanan dan minumannya. LOL. Well, here i will write a review about a coffee shop named Six Ounces Coffee on Kelapa Gading, Jakarta.

I’ve been really struggling my relationship with coffee. Berkali-kali saya mencoba untuk kembali minum kopi. From latte (karena manisnya) sampai kopi decaf (which i thought was free of caffeine and it was a lie, bah!). Dan dampaknya pun selalu sama: pain. Entah itu pain in my stomach atau pun di kepala. Tapi saya sih ga ada kapoknya. Coba terus! Haha!

Well, hari ini saya kembali mencoba untuk minum kopi lagi. Dan sejak saya ga cocok banget sama kedai kopi berlambang mermaid (ga cocok sama kopinya DAN tehnya juga),  saya pun mencoba ke tempat lain. Dan pilihan saya jatuh ke dua kedai kopi bernama Giyanti Coffee Roastery dan Six Ounces Coffee. Kedua kedai kopi ini sebenarnya satu akar, which is Six Ounces Coffee ini mengambil roasted bean dari Giyanti Cofee Roastery. Saya ga mau membahas soal biji kopinya, karena saya sendiri bukan expert dalam hal per-kopian. Tapi kalau mau tahu hubungan keduanya, saya sarankan Google it.

Yang akan saya review disini adalah bagaimana pengalaman saya mengunjungi kedai kopi yang sepertinya lagi hype banget di kalangan penduduk daerah kelapa gading. Okay, yang pertama akan saya bahas tentu saja minumannya. Karena tujuan saya kesini adalah minum kopi. Once again, since i’m a tea person and not a coffee addict, jadi saya betul-betul berkonsentrasi pada dampak di perut saya dibanding rasa kopinya. Patokan saya saat ini adalah apakah si kopi yang baru ini akan ‘berteman’ sama tubuh saya? We’ll see.

Coffee Menu

Since i’m a little bit ‘blind’ about what is a good coffee, jadi saya mengandalkan si boyf yang akan jadi perpanjangan lidah saya dalam menilai kopi yang enak. Yeah, he’s a coffee person (not an addict tho’), dan sampai saat ini kopi pilihannya dia itu cuma Italian Roast yang dijual di kedai kopi berlambang mermaid itu. He definitely knows what he wants when it comes to food and beverages. Ketika saya memilih Flat White yang komposisinya menurut saya 75% steamed milk dan 25% espresso, dugaan saya akan cukup aman di lambung saya dan kalau saya tidak terlalu suka maka si boyf bisa abisin. Haha…

Flat White Coffee

Kopi ini sih saya tambahin 2 press botol simple syrup punya coffee shop ini. Awal-awal saya bingung dimana letak gula, simple syrup, dkk. Namun setelah saya memandang sekeliling saya, rupanya tempat condiments-nya ada di sebuah meja yang letaknya lumayan jauh dari meja saya yang dekat dari tangga. Well, salah saya sih karena saya lupa foto tempat condiments-nya (please forgive me, but please Google it). Tapi saya sama si boyf setuju kalau mereka salah desain menaruh tempat condiments-nya. Supposedly mereka menempatkan condiments-nya di tempat yang langsung bisa dilihat pengunjung tanpa si pengunjung itu harus memutarkan pandangan dulu. In this case, karena di lantai 2 maka harusnya di tempat yang bisa dilihat langsung oleh pengunjung yang baru naik ke lantai 2, at least bisa buat bahan pertimbangan mau duduk di dekat tempat condiments apa engga kan. Akhirnya setelah saya sudah nemuin itu tempat condiments, ada waiter cowo yang nawarin untuk bantu kasih simple syrup untuk saya. Dia bilang “saya kasih 1x pencet aja yah, soalnya ini udah manis banget”. Dan karena sebelumnya saya sudah cobain rasa kopinya yang menurut palate saya horribly bitter, jadi saya bilang aja “2x aja deh. Saya lebih suka agak manis.” Well, he seemed quite suprise and cocky. “Cappucino yah?” dia tanya lagi. “Nope, Flat…something…” sumpah saya lupa banget nama itu minuman. “Oooh..Flat White.” dia bilang lagi. “Yep, that one. Thanks…And then i went away to enjoy my drink.

White Peony Tea

Alasan saya pilih Six Ounces Coffee, selain karena lebih dekat , juga karena tempat ini punya minuman teh bernama ‘White Peony‘. Dan sebagai tea person, saya langsung seneng karena saya tahu itu adalah white tea yang adalah teh favorit saya dan dari namanya pun saya tau kalau itu adalah varian white tea yang sering saya minum. So, it was like shoots two birds with one stone. Dari menunya saya membaca bahwa Six Ounces Coffee menggunakan teh dari brand JING yang jujur baru saya dengar. Tapi buat saya sih, apapun mereknya selama itu teh akan saya coba. Okay, karena saya adalah seorang pecinta teh maka saya tahu apa yang harus saya tanyakan ketika memesan teh. So, i was asking the cashier (yang menurut saya sudah seharusnya dan sepantasnya punya product knowledge dari barang yang dia jual, just as i always thought when i order beverages on the mermaid coffee). Here is what i asked her:

Me: Mbak, tehnya itu tea leaf atau tea bag?

Mbak: Kita tehnya sudah langsung jadi, bu…

Me: *ekspresi bingung karena pertanyaan saya ga dijawab*

Mbak: *mungkin dia lihat ekspresi bingung saya makanya dia langsung nunjukin gelas yang isinya teh* Kaya ini, bu…tehnya sudah disaring, jadi nanti tinggal minum.

Guess what, yang dia tunjukin ke saya itu adalah cangkir kaca transparan yang isinya sudah ada tea leaves di dalam tea infuser. Of course its A TEA LEAVES! Entahlah, mungkin si kasirnya yang bingung sama pertanyaan saya atau dia yang memang tidak mendengar secara jelas pertanyaan saya. Well, if you asking why i asked that question, jawabannya adalah karena saya lebih memilih teh saya dalam bentuk tea leaves dibandingkan tea bag. Why? Karena biasanya tea bag berisi jenis daun teh dengan grade terendah dan kandungan-kandungan terbaik dari teh itu sudah sisa-sisa bahkan hampir ga ada. Walaupun bukan berarti saya ga mau minum yah.

Kembali ke White Peony, setelah saya memesan kopi dan teh, saya sama si boyf menunggu di lantai 2 yang saat itu memang sudah agak ramai. Dan saya pilih duduk di high chair dekat jendela karena saya mau liat pemandangan (turned out pemandangannya cuma genteng-genteng rumah…haha..) dan cahayanya pun natural untuk foto. Yang pertama kali datang adalah Flat White pesanan saya. Hmmm, i wonder where is the tea… hingga kurang lebih hampir 10 menit, itu teh belum datang juga. Feeling saya mulai ga enak. Dan ketika datang, yang saya lihat adalah gelas teh yang sama kaya si kasir kasih liat dan warnanya adalah coklat emas gelap (as you can see in the picture). And i feel like i’m lost my appetite. It’s a blasphemy! A white tea blasphemy! (pardon my hyperbole) How come they made delicate tea leaf like white tea to be that dark color?! My guess adalah mereka merendam teh nya lebih dari 5 menit (dimana seharusnya white tea paling lama adalah 3 menit dengan warna kuning muda. Please see my post here about what color i like for my tea). And the water is soooooo hot (i feel a stung on my lips when i taste it first). And i felt like i’m betrayed. My precious White Tea has been violated. Direndam terlalu lama di dalam air yang terlalu panas. Ga cuma itu, pertama saya cicip yang saya rasakan bukannya sensasi manis khas white tea, melainkan pahit layaknya teh pahit di restoran biasa. And it hitted me so hard sampai saya harus mempertanyakan lagi, ini yang salah saya atau produsen teh nya yah? I mean, selama ini White tea yang saya minum memang baru dari TWG yang saya percayai sebagai salah satu produsen teh terbaik di dunia. Tapi kok rasanya jauh amat ya bedanya sama teh yang saya coba ini? Well, i am not a Tea Connoisseur or Tea Sommelier. I’m just a tea addict who loves tea and knows what i drink and i informed myself enough to know everything about tea. Tapi kali ini saya nyatakan kalau saya kecewa dengan White Tea tempat ini. Walaupun sebenarnya no wonder sih, karena mereka adalah coffee shop, bukan tea shop.

Setelah menghabiskan minuman kami, si boyf pun rewel karena saking laparnya. Maka munculah alasan ke tiga saya memilih Six Ounces Coffee, menu makanan mereka lebih beragam dibandingkan Giyanti. Bekerja sama dengan restoran disebelahnya yang bernama Green Door Kitchen, Six Ounces Coffee menyediakan menu makanan western. Awalnya saya ragu karena beberapa menunya menyajikan pork dan bacon (saya liat di instagramnya), namun karena ada menu lain saya coba konsultasikan ke si boyf. “Ada minyak babi-nya ga di kopinya?” that was he ask me. Well, Duh! *eyes rolling*

Setelah pusing liat menunya yang memang 70% pork&bacon, kami putusin pilih Ultimate Burger (brioche bun with beef patty, caramelized onion, cheese, egg and bbq sauce) buat si boyf dan Sloppy Joe Burger buat saya. Walaupun awalnya si boyf pengennya cubanos, tapi karena pork akhirnya ga jadi. Well, they use Oz beef for their patty, not bad.

Sloppy Joe Burger

Well, saya sama si boyf sama-sama punya latar belakang yang serupa, suka makan dan bisa masak. Kami cukup mengerti proses dibalik pembuatan suatu makanan. Si boyf dulu waktu kuliah di oz pernah kerja di kitchen sama om-nya dan saya pun pernah menimba ilmu setahun di Jakarta Culinary Center. At least buat kami berdua, kami ga buta banget mengenai rasa makanan dan proses pengolahannya. Dan setiap kali kami berkunjung ke tempat makan baru, kami pasti akan komentarin rasa makanannya. Karena menurut kami, rasa enak itu relatif buat masing-masing orang, tapi rasa ga enak itu udah pasti semua orang tahu rasanya. Tapi kalau mau nyebut kami kritikus makanan sih silakan, karena at least kami berdua punya background yang kuat tentang pemahaman mengolah makanan. And we do know how to taste (and trust our palates).

Inside the burger

 

Sloppy Joe ini memang gak lain dan ga bukan adalah Bolognese. Namun tanpa herbs. Awalnya sih saya pikir itu bakal mirip kaya Chili Con Carne yang pernah saya bikin, tapi setelah ditelaah lagi, karena ga ada red bean nya jadilah dia adalah bolognese. Well, aslinya si sloppy joe ini asalnya dari Iowa, US. Rasa burgernya sih not bad, cuma agak kurang asin menurut saya. Jadi agak kurang ‘nendang’ rasanya. Walaupun lembut dagingnya sih oke. Patty-nya juga lembut. Si sunny side egg nya dibuat setengah matang walaupun ga runny waktu dipotong.

Yang sedikit membuat si boyf agak risih adalah piring kayu untuk burger. Well, i’ll try to elaborate what he means. Basically, menggunakan elemen kayu untuk wadah makanan sih ga pernah jadi masalah buat kami. Yang menurut kami agak kurang benar disini adalah: They should’ve put grease paper to wrap the burger or as the base of the burger. Jadi si burger tidak bersentuhan langsung dengan piring kayu tersebut. Why? It’s just a matter of appropriateness. And hygene. And how it will look better. Believe me, si boyf memang agak fussy about foods display. He’s more detailed about everything than me. 

Sweet Potato Fries

Menu terakhir yang akan saya bahas adalah Sweet Potato Fries. To be honest, saya cuma suka saus kuningnya aja (i swear i dont know the name). Friesnya ga keras, which is good. Saus barbeque nya definately not in house made. Dan Yellow sauce nya itu lho, taste like mayo but more sour. Mungkin lebih tepatnya Thousand Islands with a twist (it could be anything they put in there). Dan asamnya pun seperti asam lemon yang segar. Dugaan saya sih saus ini resep mereka sendiri (someday i’ll try to make it on my kitchen).

Soal harga? Well, saya kasih liat receipts nya yah.

Beverages Receipt

 

Foods Receipt

Totalnya sih hampir 350ribu yang saya keluarkan di coffee shop ini. Kalau ditanya worth atau tidak, pribadi saya sendiri akan jawab: Not really. Why? I’ve been ate in Greece Restaurant. Saya makan menu meat platter disitu dengan harga yang kurang lebih beda tipis dan sudah termasuk minuman, nasi, kentang, 2 lamb racks, 2 steaks kurang lebih 150gram, ayam dan ikan. Just like a feast but cheaper.

That’s why saya kasi 2 stars out of 5 for this place. Is it that bad? Well, despite of the ambience i love, they had nothing so special to me. Don’t forget the tea blasphemy. FYI, my boyf even give 1 star because lack of taste. “Nothing but good design interior” he said to me.

Last but not least, saya kembalikan kepada anda masing-masing untuk menilai jika anda sudah mengunjungi tempat yang selalu ramai ini. Again, it was not a bad experience to visit this place. Sampai pada saat si perut mendadak mules yang bikin saya harus melarikan diri keluar dari tempat itu. Bukan karena mereka ga ada toilet, tapi karena saya tahu saya ga akan bisa tenang kalau harus ‘mengeluarkan’ isi perut saya disitu. Toiletnya cuma 2 yang pastinya akan berebutan. Hihihi…. I’ll see you soon on the next review.

Regards,

FubuFebi

Six Ounce Coffee

Jl. Gading Indah Raya blok NB 2 no 1

North Jakarta,

Monday Closed

Tue-Sun 8.30am – 9.00pm

☎ 0812 9559 2233

Instagram: Six Ounce Coffee

 

Ultimate Burger


2 thoughts on “Six Ounces Coffee (Restaurant Review)

  1. amelia caroline Reply

    i guess rather than selling the food and beverages they’re more into selling the atmosphere
    tempat nya sih emang lumayan enak waktu pertama kali buka, adem di tengah gading yang terik

    but after a while, tu tempat jadi tongkrongan hipster plus om tante yang suka meeting / arisan pas siang
    too crowded…. sampe kadang nyari tempat duduk agak susah
    as for the coffee, sebenernya biasa aja itu tapi itu harga makanannya yakkk….. ehmmm… okay –”

    cuss lahhh si abang kapan buka resto sendiri ? your cooking looks more promising 😀

    1. fubufebi Reply

      Hahahaha….gw pas kesana juga nemunya lebih banyak senior citizens dibanding anak muda. Untung gw di lantai 2 lho. Pas turun ke lantai 1 buat pesen makanan, it was sooooo noisy karena ramai. I don’t think i can enjoy my foods with people noises chewing my ear.
      And as for si onta’s cooks, we’ll see in the near future. Thanks, mel…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *