Dyshidrotic Eczema/ Pompholyx (Eksim Dishidrotic)

*Sorry for some disturbing Pics. Please make sure you don’t read this when you’re eating*

Hello, udah lama yah ga nulis blog lagi. So sorry karena tahun lalu a lot of things happened in my life. Dari mulai engagement saya, nyiapin acara pernikahan yang kurang dari 30 hari (Yeah, i did that) sampai drama di office yang mengharuskan saya naik jabatan yang jelas bikin makin sibuk karena makin banyak yang diurusin. Well, since i just resigned a month ago due to taking some rest for baby programme, jadi sekarang saya punya lebih banyak waktu dirumah.

Kali ini saya ga akan cerita soal skincare ataupun makanan. Ini agak jauh melenceng sih, soal penyakit kulit yang saya idap 6 bulan sebelum saya nikah. Penyakit ini disebut Dyshidrotic Eczema/Dermatitis. atau bahasa indonesianya adalah eksim dishidrotic. Penyakit ini yang rupanya menurut American Academy of Dermatology dikategorikan cukup umum terjadi di masyarakat.

What Caused it?

How this is happened? What caused it? Well, klo saya copy dari situs American Academy of Dermatology lagi, Eksim Dishidrotik ini adalah keadaan dimana ‘the skin cannot protect itself as well as it should, so the person often gets itchy, dry skin.’

Jadi, ceritanya saya mulai ngerasain ada bubbles di jari manis tangan kiri saya. Saya pikir itu cuma karena saya ga cocok sama air yang ada di tempat kerja saya. Karena dulu kulit muka saya pernah jerawatan dan beruntusan setelah saya suka cuci muka dengan air disana. Yang akhirnya saya mengganti air cuci muka saya dengan air aqua and its better. Ternyata keadaan di tangan saya masih terus gatal sampe 2 minggu, saya sempet nanyain ke temen-temen kerja saya apakah ada yang mengalami keadaan sama kaya saya. Dan ada beberapa yang begitu tapi mungkin mereka ga terlalu memusingkan. Sedangkan saya sendiri karena orangnya kepoan dan pengen tau apa yang terjadi sama jari saya, saya coba cari tau kenapa. Kenapa saya ngotot banget mau tau? Soalnya gatel-gatelnya cuma di jari manis tangan kiri saya. Jari lain ataupun tempat lain di tubuh saya ga kena. Dan gatal-gatal ini kaya come and go seiring waktu.

Saat itu yang jadi kecurigaan saya masih soal air yang nyebabin jari saya begitu. Sampai saya ngurangin intensitas nyuci piring supaya ga terlalu sering kena air disana.

‘Eksim dishidrotik ditandai dengan kemunculan bintil-bintil kecil yang berisi cairan dan terasa gatal pada permukaan kulit telapak tangan dan/atau telapak kaki serta di sela-sela jari. Lepuhan ini dapat terus muncul dan berlangsung sekitar 3 minggu. Saat lepuhan mengering, kulit akan menjadi pecah-pecah yang terasa sakit. Jika Anda menggaruk area tersebut, Anda juga akan merasa kulit terasa lebih tebal dan kenyal.’

Itulah kira-kira yang terjadi ke jari manis tangan kiri saya. Kalau gatal-gatalnya sudah hilang dan bubblenya sudah kering, jari saya jadi kering dan terkelupas yang sakit kalo dicabut.

Si bubbles ini emang mirip kaya cacar air tapi beda ukuran.

Jari yang saya sudah oles salep dokter.

Dan akhirnya saya baru kesampaian periksa ke dokter setelah saya nikah, dan kebetulan berobat bareng sama suami saya yang juga punya riwayat eksim tapi di kaki dan bentukannya beda sama yang ada di jari saya. Waktu itu hasil diagnosa dokter kulit langganan saya (His name si dokter Danny Djuanda, SpKK) adalah itu Eksim. Dan penyebabnya adalah stres. Which is yang bkin saya bingung itu adalah saya ga merasa saya stress banget kok. Tapi kayanya ini penyakit kok ada terus. Tapi akhirnya saya dikasih salep untuk dioles pas gatel dan juga jari saya yang saat itu lagi merah dan gatal dan banyak bubbles nya akhirnya disuntik supaya lebih cepet sembuh.

A few weeks after saya ke dokter, jari saya masih tetap begitu, ga berubah. Salep dokter yang dikasih ke saya masih terus saya pakai. Dan saya masih tetap terus mencari jawaban apa sebenarnya nama penyakit yang saya idap ini. Usut punya usut, saya goggling dan menemukan sebuah foto dan penjelasan yang cukup mirip dengan kasus saya. Dan barulah saat itu saya tahu kalau nama penyakit ini adalah Eksim Dishidrotopic.

Oke, saya akan share beberapa hal yang saya menurut saya perlu diingat, karena saya yakin pasti kalian bisa cari di google tentang penyakit ini.

‘Eksim dyshidrotic terjadi 2 kali lebih sering pada wanita dibanding pada laki-laki. Menurut dokter, Anda memiliki kesempatan lebih besar jika Anda mengalami stres atau memiliki alergi. Beberapa dokter menyimpulkan bahwa eksim dyshidrotik merupakan jenis dari reaksi alergi.’ Reaksi alergi ini adalah kunci buat saya pribadi. Karena setelah merasa yakin kalau saya engga stres-stres amat, saya cari tahu apa penyebab lain yang memicu eksim ini. Alergi apa kira-kira ya saya? Guess what, saya baru ngeuh pada saat saya mengganti deterjen saya. FYI, apartemen tempat saya sama suami saya tinggal sekarang ini dulu ditinggali sama kakak ipar saya. Dan setelah si kakak pindah, saya memakai deterjen yang dulu dia pakai. Mohon maaf, saya tidak akan menyebutkan merk tersebut disini. Tapi cukup dikenallah merk nya karena sudah ada dari jaman saya masih kecil.

Yang saya perhatikan adalah setelah saya mencuci dengan deterjen tersebut, jari tangan saya besoknya pasti langsung gatal dan ga lama muncullah si bubbles yang gatelnya minta ampun. Dan karena dari info yang saya dapat, kalo gatal ga boleh digaruk. Pastinya bkin kesel karena dimana-mana klo orang gatal ya pastinya lebih enak digaruk kan! My Gosh! Kenapa ga boleh digaruk? Karena cairan di dalam bubbles itu klo pecah dan kena ke bagian tubuh yang lain bakal menyebarkan eksim itu ke tempat yang kena cairan itu. Hadeeeh….

Setelah saya sadar hal itu, saya langsung ganti deterjen saya ke merk lain yang memang dulu biasa saya pakai. Dan memang benar, gatal-gatal itu ga muncul lagi.

Menular ga?

Eksim Hidrosis bisa menyebar pada tubuh diri sendiri jika digaruk dan pecah. Cairan bening yang telah keluar dari pecahan bintil tadi berperan sebagai benih perantara untuk kloter-kloter bintil baru bertumbuh di area kulit sekitarnya yang terkena. Proses “penularan” pada diri sendiri ini disebut sebagai auto inokulasi.

Tetapi meski penyakit ini dapat menyebar ke bagian tubuh Anda yang lain, bintil tidak dapat menular ke orang sekitar, baik dari sentuhan langsung maupun dari metode penularan lain, seperti pinjam meminjam barang pribadi. Oleh karena itu, meski cairan bening hasil pecahan dari bintil tersentuh oleh orang lain, orang tersebut tidak akan tertular dishidrosis. Begitu pula dengan barang-barang yang tersentuh oleh bintil atau cairan bekas pecahan bintil, dishidrosis tidak akan menular ke orang lain yang memegang barang-barang tersebut.

Bisa Sembuh ga?

Sayangnya, Dishidrosis termasuk kondisi medis yang berlaku seumur hidup. Artinya, penyakit kulit ini tidak dapat sembuh total, namun gejalanya bisa dikendalikan agar tak sering kambuh. So, yes, i’ll have this for the rest of mylife. Untuk saat ini saya masih terus coba cari tahu kandungan-kandungan apa yang mungkin bisa memicu penyakit ini.

Karena ada sumber yang menyatakan akan bisa mengalami eksim dyshidrotic jika tangan atau kaki sering dalam kondisi lembap atau basah, atau jika sering terekspos garam logam, seperti kobalt, kromium dan nikel.

Karena sejak dulu pun saya juga ada beberapa produk pembersih pakaian yang membuat saya alergi, namun bukan gatal-gatal seperti Dishdrosis ini, tapi ke rasa panas dan merah setelah saya menggunakan produk pemutih baju tersebut. Dan itu lebih mudah karena reaksinya yang sangat cepat saya rasakan.

How is it now?

Keadaan jari saya sekarang.

Seperti yang bisa dilihat, jari saya sudah membaik. Meskipun kulit jari saya masiah terasa menebal, tapi saya sudah cukup lega karena si bubble ga ada lagi dan gatal-gatal pun hilang. Yang terlihat hanya sisa kulit kering yang kadang saya olesi salep dari dokter atau Petroleum Jelly merk Vaseline yang bisa dibeli di Drug store mana aja untuk mengurangi keringnya.

Let’s hope situasi ini akan terus membaik. Karena sekarang aja saya sudah mulai berpikir untuk cari produk yang organik karena ternyata kulut saya tidak seperti kulit badak yang saya bayangkan selama ini. hahaha…

Thanks for visiting and reading. Stay healthy, everyone!