Fear of Missing Out

Hi! We meet again! Happy 2020! It’s feel so good to be back. 

Hari ini kayanya cuma pengen share some piece of my mind. Ada banyak hal yang lagi kepikiran belakangan ini. Actually cukup banyak yang terjadi di beberapa bulan belakangan ini. Kayanya hampir 6 bulan juga gw resign dari tempat kerja and become a full time housewife. And I actually enjoying my life now. I enjoy my solitude, my serenity. It’s not like I don’t like my old job. I loved it. Cuma, kehidupan sebagai full time housewife memberikan gw waktu lebih banyak untuk bisa ‘melihat’ sesuatu dari sisi lain. 

My life as fulltime housewife, basically kerjaan gw udah pasti ngurus hubsy dan rumah yang sekarang kita tempati berdua. Karena gw udah ga kerja, otomatis setelah hubsy berangkat kerja, gw punya banyak waktu untuk ‘me time’. Dan banyak hal yang bisa gw lakukan setelah gw ga kerja lagi, termasuk balik ‘nulis’ dan browsing internet. Setelah gw resign, bukan berarti gw jadi bisa pergi kemana-mana. Well, i do like driving around dan kebetulan tempat tinggal gw sekarang, berseberangan sama sebuah mall. Tapi pada kenyataannya, gw itu mager banget keluar rumah. Kalo ga perlu-perlu amat biasanya gw akan Lebih pilih stay at home and have my beauty sleep. Dan tentunya gw punya Lebih banyak waktu ‘berseluncur’ di social media.

Internet nyediain banyak banget informasi yang kita cari, sometimes malah internet kasih kita informasi yang sebenernya ga kita perluin banget, and it happens randomly. Di hp gw sih ada beberapa aplikasi portal berita yang kadang gw buka klo lagi nyari informasi terkini. Tp mostly yang Sering gw buka sih to be honest adalah social media. Karena aplikasi ini adalah wadah bagi semua orang untuk bersosialisasi. Salah satu yang paling sering gw buka adalah Instagram. Dan bisa jadi si instagram ini adalah aplikasi andalan gw untuk mengupdate berita. Gw Lebih sering ngebuka tab ‘search’ dibanding ‘feeds’nya hahahaha. Justru ‘search’ Adalah sumber informasi gw, terutama ketika lo follow akun-akun berita/gosip atau sekedar mencari tanpa memfollow akun tersebut, berita terkait akan muncul di halaman ‘search’ lo. Dan dari situlah info-info terbaru bisa di dapat. 

Di instagram juga gw bisa liat apa yang terjadi Dengan temen-temen gw. FYI, gw punya 2 akun instagram yang dua-duanya punya 2 fungsi berbeda. 1 akun gw pake untuk private life sendiri, dimana ga banyak yang gw follow dan gw accept friend request-nya. Hanya beberapa orang aja yang emang gw ‘ijinin’ bisa masuk ke lingkaran terdekat gw. Dan akun ke 2 adalah akun umum yang gw biasa pake buat posting foto makanan atau apapun yang ga berkaitan Dengan my private life. Walaupun terkadang ada beberapa private moment yang gw share juga di akun itu tapi biasanya i considered that as not too private. Di akun ini juga gw tetap ‘memilah’ siapa yang mau gw follow. Gw bukan tipikal orang yang suka ‘asal’ follow just because I know them. Mungkin karena gw bukan orang yang kepo banget sama hidup orang yang menurut gw ga deket-deket amat sama gw. Yeah, i might sounds like a picky person. But I do it for my own reason.

Lately, I’ve been thinking about what happened in this society dilihat dari social media, terutama Jakartan. Yep, orang-orang yang tinggal di jakarta. Bukan hal asing lagi ngeliat akun gosip atau berita yang memperlihatkan orang-orang ‘showing off’ something they do or have. Kata orang, klo lo ga suka ngeliat atau komen nyinyir itu tandanya lo ngiri karena ga mampu jadi seperti mereka. Terlepas dari benar atau engganya statement itu, don’t you feel sick ngeliat berita yang isinya orang-orang berhalusinasi atau sosok narcissist yang cuma peduli diri mereka sendiri? Belum lagi orang-orang yang ikutan komentar di postingan/berita tersebut. Gw sendiri ga suka komen di akun-akun yang ga gw kenal atau ga gw follow. Analogi gw, aneh aja klo lo tiba-tiba bersuara di suatu tempat asing yang ga lo kenal, di tengah-tengah orang-orang yang ga lo kenal pula. Makanya gw suka bingung sama para netizen yang rame-rame komen di akun seorang selebritis yang lagi jadi ‘hot news’ atau komen di akun berita/gosip terbaru. Tapi yah itu pilihan masing-masing orang sih, feel free to do it. But actually, I enjoy bacain komen para netizen itu. Mulai dari komen pedes yang menghakimi bak orang yang paling kenal sampe komen asal yang kocak jadi hiburan. Persis kaya ada rasa kenikmatan tersendiri ketika ngebacain komen di video Youtube dibanding Nonton isi videonya. Sumpah gw sama hubsy suka cekikikan sendiri ngebacain komen-komen para netizen itu.

Gw pernah denger sebuah statement yang mengatakan ‘If you controlled media, you controlled the world.’ Well, I believe yang diperlihatkan media jaman Sekarang sudah diatur sedemikian rupa untuk dilihat oleh dunia, setidaknya demikian yang dibilang si hubsy. Apa yang ga dikasih liat justru lebih besar efeknya, IMO. That’s why gw mulai kembali memilah dan mencerna ulang apa yang gw lihat dan baca. Gw cuma ga mau apa yang gw lihat dan baca di media, membentuk cara berpikir gw. Too much toxic in the media nowadays. Dan kalau bukan diri kita sendiri yang menyaring, who will? And I prefer not to be intoxicated by what social media showed me. Gw sendiri ga mau jadi hypocrite karena gw masih suka liat dan baca akun-akun Gosip yang menurut hubsy ga jelas. Hubsy beberapa kali pernah kasih tau untuk Jangan terlalu sering liat kaya gtu. Walaupun sometimes gw ngerasa perlu untuk tahu berita terkini ya dari akun-akun tersebut sih, bukan untuk apa-apa tapi buat jadi bahan obrolan aja ketika lo lagi bareng sama keluarga atau temen-temen lo. But still, sebagai seseorang yang suka bacain berita kaya gtu, gw makin sadar kalau society makin ‘parah’. Gimana engga, seseorang bisa jadi terkenal karena ‘halusinasi’ yang luar biasa dan ga merasa malu Dengan ‘kehalusinasian’nya. Ada juga seorang perempuan yang ga keberatan dimanfaatkan seorang laki-laki cuma untuk jadi ‘viral’ dan masuk tv. Geez, se-narsis itukah masyarakat kita sekarang? Sehebat itukah status ‘viral/terkenal’ sampai seseorang mau melakukan apapun demi ngedapetin status terkenal. 

Gw jadi pengen ngebuka lagi buku-buku kuliah komunikasi gw jaman dulu untuk bisa menganalisa apa yang terjadi Dengan masyarakat kita sekarang ini. Media, terutama social media sudah membuat seseorang menjadi lebih ’berani’ speak up dibalik identitas Palsu yang mereka ciptakan. Identitas yang menurut mereka Adalah sebuah bentuk kebebasan diri yang Tanpa mereka sadari Sudah kebablasan dan tidak lagi memedulikan sopan santun dan moral. Apa itu berarti masyarakat kita sudah ‘rusak’? Well, gw ga bisa menjawab pertanyaan itu karena gw tau kapasitas gw. Tapi gw sih masih percaya masih ada orang-orang diluar sana yang punya conscience atau hati nurani terlebih moral dan logika untuk bisa berpikir jernih.

Karena yang bisa gw analisa sekarang adalah masyarakat kita ini punya sebuah ‘penyakit’ yang disebut ‘Fear of Missing Out’ atau ga jadi bagian dari kekinian (Kudet/kurang update). Mungkin itulah alasan social media jadi alat yang paling penting buat manusia jaman sekarang. Tapi karena itu adalah sebuah alat, sudah seharusnya kita tahu gimana cara mengendalikannya bukan? Cheers! 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *