Humanity Above Religion

Hi! Another Small talk we have here. Well, tulisan ini sih cuma sebuah bentuk curahan hati ngeliat apa yang terjadi di sekitar saya. Ga cuma baru-baru ini, tapi beberapa tahun belakangan ini. Honestly, Saya ga pengen ngomongin hal ini, karena lumayan sensitif. Tapi Saya akan coba untuk tidak terlalu mengaitkan dengan hal yang berhubungan dengan SARA. So, without any further a do, lets begin. 

Bukan sekali dua kali saya pernah membaca komen-komen netizen di Instagram (Platform yang lumayan sering saya kunjungi). Mulai dari mengomentari kelakuan para artis, sampai status media sosial orang awam yang ga dikenal. Percayalah, orang indonesia terutama (mungkin) warga jakarta, sedang ‘mabuk’ popularitas dan ‘mabuk’ agama. Banyak orang berlomba-lomba ingin terkenal/masuk media dengan berbagai cara. Mulai dari melanggar peraturan, menyinggung kaum minoritas sampai ‘pura-pura’ jadi halu demi mendapatkan perhatian. Udah pernah saya singgung juga kalau hal itu (menurut saya) adalah sebuah bentuk narsisme yang sekarang lagi trend. FYI, Narsistik adalah salah 1 Jenis personality disorder yang biasa disebut Narcissistic personality disorder(NPD). Jadi Saya harap kalian bisa menyimpulkan sendiri maknanya because I won’t be the one who put the label to them. Tapi disini Saya ga mau ngomongin soal penyakit kejiwaan tersebut ataupun kelakuan orang-orang tersebut meraih popularitas. Yang mau Saya omongin adalah reaksi-reaksi ‘ajaib’ para netizen di Indonesia (terutama). Bukan hal baru sebenernya ngeliat komen-komen ‘ajaib’ para netizen yang sering disebut ‘Maha Benar’ dengan segala kalimat yang diketik di kolom komentar sebuah postingan akun media sosial. 

Kalau kalian udah ngebaca tulisan saya berjudul ‘Fear of Missing Out’, Kalian pasti tahu Kalau saya sesungguhnya amaze dengan orang-orang yang menyempatkan waktu untuk menulis komen disebuah akun yang admin-nya aja ga mereka kenal. Dan yang lebih bikin saya merasa amaze dengan para netizen tersebut adalah bagaimana komentar mereka mengindikasikan mereka ‘paling tahu’ dengan keadaan dan informasi sebenarnya dari isi berita yang ada, padahal mereka tidak mencantumkan sumber atau (lagi-lagi) tidak bisa membuktikan isi komentar mereka adalah berdasarkan sebuah fakta dan data. Dan terlebih lagi, dari komentar-komentar tersebut, tidak jarang memberikan cap atau label terhadap seseorang di dalam berita tersebut.

Saya tidak mau mengatakan hal itu dilakukan oleh SEMUA netizen indonesia. Tidak. Tidak semua seperti itu. Sebagaimana layaknya kita menanggapi sebuah berita yang beredar, ada Pro dan Kontra. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Saya rasa semua orang setuju bahwa di UUD 1945 pasal 28E ayat 3, negara ini menjamin hak tiap warga negaranya untuk mengemukakan pendapat. Itu adalah salah 1 dasar dari negara demokrasi, Freedom of Speech. Tapi yang Saya rasain sekarang adalah ketika demokrasi atau kebebasan berpendapat ini sudah mulai kebablasan. 

Saya mau mengutip dari pasal 19 dari Universal Declaration of Human Rights tentang kebebasan berpendapat “Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.” (Setiap orang berhak untuk berpendapat dan berekspresi, hak ini termasuk kebebasan untuk berpendapat tanpa ada intervensi untuk mencari, menerima, dan memberikan informasi dan ide melalui media apapun dan tetap memperhatikan batasan-batasan).

Bahkan PBB pun menyebut soal batasan-batasan yang harus diperhatikan ketika berpendapat, dan batasan-batan ini dibahas di pasal 29 ayat 2: “In the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations as are determined by law solely for the purpose of securing due recognition and respect for the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society.” (Dalam melaksanakan hak-hak dan kebebasannya, setiap orang harus tunduk hanya pada batasan-batasan yang ditentukan oleh hukum (setempat), semata-mata dengan tujuan untuk mengamankan pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi persyaratan moralitas yang adil, ketertiban umum. Dan kesejahteraan umum dalam masyarakat yang demokratis).

Nah sekarang saya akan mulai membahas soal ‘kebablasan’ Menurut versi saya atau pandangan saya. Sekali lagi, ini menurut opini saya. Baru-baru ini, dunia medis lagi ramai dengan virus Corona yang oleh WHO pada tanggal 31 desember pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina. Saya ga akan bahas apa sebenarnya virus ini dan sudah berapa banyak korban yang terdeteksi terjangkit virus ini karena udah banyak banget sumber yang lebih kredibel yang bisa dicari di google. Nah balik lagi ke komen dan reaksi para Netizen soal berita-berita yang beredar. Saya sendiri ga tau ini berawal dari mana, tapi kalau dari hasil penelusuran saya yang mengutip dari situs tempo.co, pada 26 januari, ada sebuah akun Facebook (saya ga mau sebut namanya) yang menyebut bahwa wabah virus Corona di Kota Wuhan, Cina, muncul akibat perlakuan negara itu terhadap muslim Uighur. Atau bahasa lainnya AZAB. 

Saya sendiri cuma bisa geleng-geleng sambil ngelus dada ngebaca isi artikel itu. Kemudian muncul lagi sebuah tulisan reaksi dari berita azab tersebut yang kali ini ditulis oleh seorang mahasiswa muslim yang tinggal di Wuhan (Chongqing). Si Mbak ini mengaku sedih karena apa yang terjadi di wuhan disebut sebagai azab Allah. Saya sendiri pun ga jauh beda dengan si mbak, miris ngebacanya. Kenapa segala sesuatu harus dikaitkan dengan agama ya? Lagipula apakah tidak diajarkan di agama untuk bersimpati atau berempati kepada orang-orang yang terkena musibah? Apakah pernah terpikir sebelum mengeluarkan kalimat tersebut, bahwa apa yang dikatakan akan membuat orang lain merasa tersakiti? Dan terlebih lagi, mengapa merasa apa yang dikatakan itu adalah sebuah kebenaran (merasa diri paling benar) daripada mencari tahu fakta dibalik kalimat tersebut? 

Sebenarnya yang membuat miris untuk saya adalah bagaimana seseorang menyikapi sebuah berita dari 1 sisi pandang saja yaitu sisi pandang dirinya sendiri. Apakah netizen yang mengutuk negara cina atas kejadian di Uighur hanya mau melihat dari sisi agama saja? Bagaimana dengan dari sisi politik, misalnya saja konflik cina dan Amerika. Jangan lupakan juga bagaimana sikap pemerintah kita terhadap konflik tersebut yang menganggap kalau kejadian tersebut adalah konflik intern negara cina yang berarti ga bisa kita ikut campur. Menurut saya sih, janganlah karena sentimen atas sebuah negara/etnis sampai membuat kita berpikir sempit. Apakah adil kalau virus Corona yang asalnya dari cina dibilang Azab untuk Cina, sedangkan virus MERS yang awal mulanya dari negara Arab tidak dibilang azab juga? Masa iya cuma karena merasa ‘satu akar’ sampai membuat logika tertutup sih. Kasianlah orang-orang di cina sana yang ikut kena imbas berita ‘sesat’ ini. Itulah gunanya berpikir dulu sebelum berkata atau mengetik.

Ada 1 lagi yang lucu menurut saya. Ada seorang penyanyi senior yang memposting di akun instagramnya bersama dengan seorang pemimpin agama yang berlainan agama dengan penyanyi tersebut. Kemudian yang menjadi viral adalah komen seorang netizen ‘Haram tauk mba’. Syukurlah reaksi si penyanyi cukup bijak hingga menurut saya menjadi sebuah jawaban telak untuk si netizen berotak sempit tersebut. Apakah sebegitu intoleran-nya kah netizen indonesia? Balik lagi, TIDAK SEMUA. Si netizen itu hanya 1 dari beberapa netizen lainnya yang menurut saya sudah terjangkit penyakit ‘mabuk’ agama. Ga sedikit netizen yang ‘mabuk’ agama berkeliaran di dunia maya. Terutama di platform media sosial. Dua kasus diatas cuma sebagian kecil dari berita viral yang muncul di timeline atau feeds media sosial saya. Percaya deh, masih banyak komen-komen ‘ajaib’ lain yang ga kalah menakjubkan klo mau dibahas satu-satu. 

Ada netizen-netizen negatif, pasti ada juga netizen-netizen positif. Yang positif jelas adalah netizen yang meng-kontra komen ‘ajaib/jahat’ netizen negatif. Mungkin saya cuma jadi silent reader dari perselisihan mereka. Tapi dari komen-komen yang kontra itu, saya tau bahwa masih ada diluar sana orang-orang yang mengerti soal toleransi dan ‘mengingatkan’ netizen lain soal bagaimana berpendapat dengan bijak tanpa menyakiti orang lain. Istilahnya, masih ada orang waras diluar sana. Bukan berarti yang komennya ‘ajaib’ ga waras, bukan. Mungkin mereka hanya belum sadar dari ke’mabuk’annya. Doakan saja supaya mereka cepet sadar.

Terlepas dari bagaimana para netizen kita bersikap di sosial media seperti diatas tadi, saya hanya merasa miris dengan orang-orang yang mengemukakan pendapat tanpa memikirkan perasaan orang lain atau melihat keadaan yang sedang terjadi. Bukankah Rasulullah pernah bersabda ““Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]. Bebas berpendapat sih boleh saja, tapi harus ingat tetap ada batasannya. Ga usahlah ngomong soal azab kalau bukan faktanya begitu. Ga usahlah bilang haram kalau ga paham aqidah islam. Ga usahlah melabeli seseorang tanpa mengenal pribadinya. Bukan apa-apa, makin banyak ngomong, makin banyak yang mesti dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Jadi mending pastiin aja setiap kata yang diucap atau diketik, berdasarkan fakta dan tidak menyakti orang lain. 

Karena saya sendiri menyetujui pemahaman yang disebut-sebut oleh Almarhum Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur: “HUMANITY ABOVE RELIGION”.  Bukan berarti saya tidak menomorsatukan agama saya, tapi justru karena setiap agama di Indonesia sangat berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya. Dan nilai-nilai kemanusiaan itulah yang menuntun supaya saya tidak tersesat dalam mempelajari kebenaran agama. Cheers!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *