My journey in skincare products

Hi! We meet again! My apologies karena udah lama banget ga nulis disini. Well, but I’m here and I’ll share something with you. I’m sorry if this post isn’t about my life in kitchen or about culinaries. But I promise you, untuk tetap ngebahas topik yang deket sama lingkungan kita. This time topic is about skincare. Yep, Skincare.

To be honest, saya bukan tipe orang yang care dengan keadaan kulit saya. Tapi bukan berarti saya ga peduli banget yah. Saya sudah kenal dengan produk skincare sejak saya sma kalau tidak salah. Disitu saya dibiasakan mama saya untuk membersihkan muka. Sejak itu saya mengenal yang namanya facial wash, cleansing toner dan cleansing milk. Setelah mulai kuliah, saya mulai mengenal dunia make up. Dikarenakan lingkungan kampus saya yang emang isinya perempuan berdandan semua. Saya inget banget bedak muka pertama saya itu Body shop yg two way cake. And guess what, langsung jerawatan doooong…. okay, bye to body shop klo gtu. Dan saya kembali ke baby powder sebagai face powder.

Untuk makeup saya sempet masuk ke fase coba-coba. Basicnya sih karena pengen tau. Saya mulai coba dari blush on, concealer, eye liner, foundation sampe berbagai warna lipstick. Sampe akhirnya saking malesnya ngasih layer-layer ke muka saya, saya cuma stick ke baby powder, blush on dan lipstick, well until now sih walaupun sekarang cuma ditambah eye liner aja itupun kalau lagi pengen pakai. Trust me, saya bukan tipikal orang yang mau repot dan ribet. *LOL*

And how about skincare? I wasn’t really concern about my skin until now. Palingan skincare yang saya beli itu tujuannya mesti jelas dan sesuai sama umur saya. Problem saya dari dulu sih selalu sama: jerawat, acnes, pimples. Dulu kalau jerawat di muka udah mulai muncul dan cenderung banyak, solusi mama saya ke dokter kulit. Yah mama saya tahu soal dokter kulit karena dulu oma saya adalah salah satu suster dari dokter kulit yang terkenal (pada jamannya) yaitu dokter kulit Adhi Djuanda, SPKK. Mama saya juga punya problem yang sama soal jerawat (i think i inherit that from her) dan oma saya selalu bawa mama saya ke dokter kulit untuk suntik jerawatnya. And that’s what my mama do to me. But this time, dokter kulitnya adalah anaknya dokter kulit oma saya, Dani Djuanda, SPKK. Sempet sih pindah ke dokter kulit lain, tapi akhirnya emang dokter dani ini yang paling cocok ke saya. Entah sudah berapa tahun saya on off ke dokter kulit. Cocok sama cream pagi, malam sama obat jerawatnya. Dulu pernah dikasih juga facial wash nya tapi saya ga mau terusin karena ribet mesti beli ke dokter nya dulu. Padahal facial wash itu kan paling cepet abis.

Sebelum saya kerja di kitchen kaya sekarang, kulit wajah saya lumayanlah untuk jumlah jerawatnya masih terkontrol (siklusnya cuma datang pas datang bulan aja). Tapi setelah kerja di kitchen dengan lingkungan yang panas dan berminyak, kulit saya mulai nunjukin masalah. Jerawat mulai muncul dan solusi saya masih tetap ke dokter kulit. Memang dokter kulit saya pernah ngebahas soal air yang jadi faktor pemicu jerawat. Jadi kalau mau perawatan sebagus apapun kalau airnya kotor ya ga bakal bisa bagus banget kulit mukanya. Setelah tahu air di tempat kerja saya kotor, saya mengganti air cuci muka saya dengan air minum kemasan galon. Dokter kulit saya juga bilang untuk menambah instensitas cuci muka saya dari 2x sehari jadi 3x-4x sehari. Jadilah saya setiap 4 jam cuci muka dengan air dari galon aqua. A bit hoping kalau kulit bakal se-perfect raisa yang konon katanya mandi pakai aqua. :))

Ngerasa ga cukup dengan cream dokter aja, saya mulai cari skincare lain yang menurut saya akan menunjang kesehatan kulit saya. If I’m not mistaken, umur saya sudah diatas 25 ketika saya cobain produk pelembab dari brand L’occitane (klo ga salah variannya immortelle deh). Itu juga karena kakak saya juga pakai produk itu dan cocok di kulit dia. Di saya pun si L’occitane ini juga cocok tapi saya ga lihat perubahan significantly to my skin. Setelah ngerasa si L’occitane ini agak memberatkan keadaan kantong saya, saya beralih ke brand yang harganya ‘sedikit’ lower. Sedikit aja loh yaah… Kiehl’s Clearly Corrective Dark Spot Solution yang jadi incaran saya. Sempet pakai ini sekitar setahunan sampai saya ngerasa emang ga ada pengaruh apa-apa ke dark spot (bekas jerawat) di muka saya yang kala itu emang jadi concern saya.

Enough with Kiehl’s yang juga sama kaya L’occitane yang makin berat di kantong (ya iyalah 700k ciiiiinn..) walaupun sekali beli bisa habis 6 bulan kemudian sih. Tapi tetep aja berasa. >,< plus ga ada efek apa-apa di kulit saya, jadilah saya nyari produk lain yang membantu permasalahan kulit saya yaitu dark spots. If you wonder why don’t i go back to my doctor, the reason is because the fee will be much bigger. Coba aja dipikir kalau 1 produk harga 700k bisa abis 6 bulan sedangkan ke dokter itu sekali konsultasi sama obat aja juga 700k. Well, I don’t think it’s worth enough. Feel free to disagree with me.

Entering thirthies made me realize to give more concern to my skin. I’m talking about skincare, not makeup. Believe me, thirties makes you think more deeply about everything. Your futures, your finance, also your healthy. Saya mulai menjaga asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya. Inget kata dokter kulit saya yang bilang kalau makanan juga mempengaruhi kondisi kulit, termasuk kulit muka. So, yes for ‘You are what you eat’ slogan. So, saya ngurangin banget asupan gorengan (thankfully ga hobi-hobi amat makan gorengan), start eating red rice, making my own overnight oatmeal. Yeah, i still do that occasionally.

Setelah bertahun-tahun memakai cream dokter, saya juga mengalami kejenuhan. Sampai akhirnya saya mulai melirik lagi produk skincare lain. Kali ini saya ingat skincare yang pernah saya obrolin sama salah satu sahabat saya. Salah satu brand dari jepang yang memang ternyata sudah banyak pemakainya dan konon cukup terkenal dengan ‘kesaktian’nya memperbaiki kulit, si SKII Facial Treatment Essence. Tapi yah begitu deh, nothing comes cheap for good skincare products. Emang ga murah kalau mau skincare yang bagus. Ke dokter aja biayanya mahal, apalagi skincare yang sudah dikenal tingkat ke-paten-an nya. Dengan sedikit ngobrol sama si boyf, dia pun kasih ijin untuk beli produk itu. Trust me, it’s never easy berhenti memakai krim dokter kulit. Saya sempet ‘puasa’ ga pake krim dokter selama seminggu sebelum saya akhirnya pakai SKII. Dan seperti yang saya takutin, efeknya adalah purging ke kulit saya. Hampir 2 bulan saya harus sabar-sabarin hadapin si jerawat yang hilang dan timbul. Mati satu, tumbuh seribu. Satu belom kelar, udah ada jerawat lain muncul. It was a nightmare!

Sempet dilema mau terusin pakai FTE apa engga karena purgingnya. Some people say si jerawat itu muncul karena lagi dibersihin bahan-bahan kimiawi dari cream dokter. So, i stand on my ground dan nerusin si FTE. I believe kalo ‘hasil ga akan mengkhianati usaha’. Jadi tetap bersabar dan konsisten dengan rutinitas pemakaiannya. Dan yang lebih penting lagi mesti diingat, ‘Ga ada hasil bagus yang instan.’ terutama when it comes to skincare. Klo hasilnya cepet, kaya cepet putih atau cepet halus mukanya, saya akan curiga it highly contains chemicals yang bahaya untuk kulit. Well, kalo under supervised doctors sih ga masalah, lha klo obat bebas? No guarantee it wont damage your skin. So, no to instant skincare.

And finally, after 2 months using FTE, i can feel the results. My skin is less acne. Jerawat saya biasanya jerawat yang gede dan meradang (merah) gtu, that’s why bekasnya jadi menghitam di kulit saya. I’m not going to say ga jerawatan lagi, karena masih suka muncul si white heads kecil, tapi itupun bisa dipites pake kuku atau langsung hilang kalau saya pakai konjac sponge. But, at elast i feel my skin is smoother. Ga ada lagi beruntusan. Minyak di wajah terkendali. Bahkan yang biasanya cuci muka 4 jam sekali sehari, sekarang saya kurangi jadi 3x sehari (pagi, siang dan sore). Thanks to FTE yang emang mengontrol minyak banget.

kiri (before), Kanan (After)

Tapi ingat, si FTE ini memang tidak bisa berdiri sendiri untuk menjalankan kemampuannya menjadikan kulit glowing and crystal clear seperti yang di klaim di iklannya. Dia tetap harus dibantu dengan skincare lain. Itulah sebabnya si FTE inilah yang jadi base layer skincare saya sebelum menggunakan skincare lain. Maybe next time saya akan share beberapa skincare yang saya pakai untuk membantu si FTE ini bekerja dengan baik di kulit saya.

Itu hanya sebagian kecil dari perjalanan saya menjalani dunia per-skincare-an. Nah, i’m not a skincare guru or skincare expert. I’m just someone who wants to share my journey to make my skin better. I know i’m still far from having glowing skin or perfect skin. But hey, success is start from making a step right? So, start loving your skin by giving them the right treatment. Mungkin kamu harus ngalamin muka beruntusan atau jerawatan karena nyobain skincare, atau mungkin kamu ga pernah ngalamin purging tiap ganti skincare? Apapun yang mesti kamu hadapi ketika memperbaiki kulit kamu, just believe, ‘masih ada diluar sana yang kulitnya lebih ‘hancur’ daripada kamu, and they’re still happy.’ Just be comfortable with your own skin.


One thought on “My journey in skincare products

  1. melita Reply

    hiii ka, mau tanya untuk pengalaman semasa ke dokter spkk (dr dani djuanda) tentang harga dan gimana pengalaman jerawatnya di kaka? kl bersedia tolong bales ke emailku ya thanks 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *